Tradisi Makan Bedulang Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Belitung

by -
Tradisi Makan Bedulang Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Belitung
Tradisi Makan Bedulang Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Belitung
Seusai menggelar kegiatan, tokoh masyarakat menikmati sajian Makan Bedulang di Rumah Adat Belitong

Budaya Kuliner Masyarakat Belitong

Sejak novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata dan film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel yang sama terkenal, Pulau Belitung juga semakin terkenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan saat ini oleh dunia.

Banyak tempat wisata yang digambarkan dalam cerita Laskar Pelangi yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Belitung. Misalnya, sekolah Laskar Pelangi yang menjadi lokasi sentral dalam cerita Laskar Pelangi yang berada di Belitung Timur atau pantai Tanjung Tinggi yang memiliki banyak batuan granit yang besar yang juga merupakan lokasi syuting pembuatan film Laskar Pelangi yang ada di Belitung.

Selain keindahan pantai-pantainya, Pulau Belitung juga menyimpan kekayaan sejarah dan kekayaan budaya dan tradisi. Beragam suku bangsa, bahasa, kesenian tradisional, upacara adat dan tradisi hingga kuliner ada di Belitung. Salah satu tradisi masyarakat Belitung yang sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dipertahankan hingga saat ini adalah tradisi makan bedulang.

Biar Sakit di Tulang Asal Nyaman di Dulang

Makan bedulang adalah prosesi makan bersama dalam satu dulang (talam/nampan besar berbentuk bundar) yang terdiri dari empat orang duduk bersila dan saling berhadapan mengitari dulang berisi makanan yang disajikan dan dinikmati dengan tata cara dan etika tertentu. Tradisi makan bedulang diperkirakan mulai ada sejak berkembangnya budaya Islam melayu di Belitung.

Pada awalnya, dulang yang digunakan adalah dulang yang terbuat dari kayu. Dulang tembaga atau dulang seng baru dikenal pada tahun 1950-an. Dudok besilak (duduk bersila) dalam prosesi makan bedulang adalah duduknya seorang laki-laki dengan menyilangkan kaki di bagian betis. Sedangkan perempuan, kaki kiri ditekuk ke dalam dan kaki kanan ditekuk ke luar.

Dudok bersilak menunjukkan nilai filosofis kesetaraan dan kebersamaan. Di samping itu, dudok bersilak merupakan salah satu posisi duduk yang baik yang menyehatkan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Tradisi makan bedulang menekankan konsep hubungan antar manusia (social system) dengan lingkungan alam sekitarnya (ecosystem), yaitu alam telah menyediakan kebutuhan manusia.

Tradisi makan bedulang di lingkungan keluarga menunjukkan rasa syukur atas rejeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa, “Biar sakit di tulang asal nyaman di dulang” (Segala letih dan susah dalam mencari penghidupan menjadi lenyap seketika saat makan bedulang bersama keluarga).

Sedangkan tradisi makan bedulang di lingkungan sosial, seperti upacara adat (maras taun, syukuran kelahiran, sunatan, pernikahan, berua, bilang-ari) atau upacara adat lainnya dilakukan sebagai sarana silaturahmi dan meningkatkan rasa kebersamaan dan kesetaraan antar anggota masyarakat.

Tradisi Makan Bedulang Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Belitung
Sajian Makan Bedulang terdiri dari beberapa lauk-pauk. Lauk yang diletakkan di tengah merupakan menu utama.

Perangkat makan bedulang meliputi :

1) Dulang yang dialasi serbet, ditutup mentudong (tudung saji) dan ditutup lagi dengan tudong lamba’ (penutup mentudong). Di dalam dulang berisi satu mangkuk untuk masakan berkuah (gangan) dan 4-5 buah piring kecil untuk lauk pauk/masakan kering (ayam/cumi masak bumbu ketumbar, sate ikan, sambal, lalapan, masakan lainnya);

2) Baskom sebagai tempat nasi dan 4 buah piring makan (biasanya 1 buah serbet yang dilipat empat diletakkan di bawah baskom, di atas tumpukan piring;
3) Baki/nampan persegi yang berisi 4 buah gelas berisi air minum, 1 buah kecibokan (kobokan) untuk mencuci tangan, 1 dan/atau 2 buah piring kecil untuk makanan kecil dan/atau buah ‘pencuci mulut’ dan serbet yang dilipat empat.

Sedangkan petugas pelaksana makan bedulang terdiri dari :

1) Mak Panggong (koordinator tata cara makan bedulang);
2) Penata Hidangan (memasukkan makanan (lauk-pauk/masakan kering/berkuah, makanan kecil dan/atau buah ‘pencuci mulut’) ke dalam piring dan/atau mangkuk, nasi ke dalam baskom, air minum ke dalam gelas, air kobokan ke dalam kecibokan, menyiapkan serbet dan menyusun piring makan);
3) Tukang Berage (menata hidangan ke dalam dulang, baki dan menyusun baskom berisi nasi dan piring makan);
4) Tukang Perikse Dulang (memeriksa kelengkapan lauk-pauk/masakan di dalam dulang dan meletakkan tudong lamba’ apabila dulang siap disajikan);
5) Tukang Ngisi Aik (mengisi air minum ke dalam gelas dan menyusunnya di telasar/rak apabila makan bedulang dilakukan di luar rumah); dan,
6) Tukang Ngangkat Dulang (mengangkat dulang ke hadapan tamu).

Tradisi Makan Bedulang Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Belitung
Setiap satu dulang dalam prosesi Makan Bedulang disajikan untuk empat orang.

Tata cara dan etika dalam makan bedulang terdiri dari :

1) Tata cara menyiapkan makan bedulang (berage).

Satu jenis lauk-pauk/makanan dikerjakan oleh satu orang Penata Hidangan. Setelah lauk-pauk/makanan siap di dalam piring dan/atau mangkuk, Tukang Berage kemudian menyusunnya ke dalam dulang. Masakan kering diletakkan lebih awal di sekeliling dulang, masakan berkuah diletakkan paling akhir di tengah dulang.

Tukang Berage juga menyusun baki yang berisi air minum, kecibokan, makanan kecil dan/atau buah ‘pencuci mulut’ dan serbet yang dilipat empat dan baskom berisi nasi dan piring makan. Setelah semuanya siap, perangkat makan bedulang kemudian diperiksa oleh Tukang Perikse Dulang, dan apabila sudah lengkap maka dulang ditutup mentudong dan tudong lamba.

2) Tata cara dan etika membawa perangkat dulang ke hadapan para tamu.

Setelah wakil tuan rumah (Pengulu Gawai) memeriksa tempat dulang pertama diletakkan, Tukang Ngangkat Dulang membawa dulang secara berantai/estafet ke hadapan tamu. Jumlah pengangkat dulang paling sedikit tiga orang. Urutan meletakkan perangkat dulang dimulai dari dulang, baskom berisi nasi dan piring dan baki.

Dulang dipegang dengan kedua tangan, kaki kanan ditekuk ke atas (lutut membantu menstabilkan posisi dulang) dan kaki kiri ditekuk ke lantai hingga ujung jari menyentuh lantai. Posisi tubuh di depan atau di samping tamu (tidak boleh membelakangi tamu). Selesai meletakkan dulang pertama di hadapan tamu, Tukang Ngangkat Dulang menggeser kaki yang berdiri pada posisi lutut tetap ditekuk, mengambil nasi dan piring makan dari Tukang Ngangkat Dulang yang berada di belakangnya dengan posisi kaki yang sama.

Setelah memberikan nasi dan piring makan, Tukang Ngangkat Dulang kedua kemudian mengambil baki dari Tukang Ngangkat Dulang ketiga yang berada di belakangnya untuk diberikan kepada Tukang Ngangkat Dulang pertama yang berada di depannya, dan seterusnya hingga seluruh dulang diletakkan di hadapan seluruh tamu. Dulang diletakkan terlebih dahulu di ruang depan (posisi paling pinggir/pojok) lalu ke bagian tengah ruang dan terakhir ke pinggir bagian belakang ruang.

Tradisi Makan Bedulang Sebagai Warisan Budaya Masyarakat Belitung
Dulang-dulang berisi makanan terlebih dahulu diatur rapi, sebelum disajikan kepada para tetamu.

3) Tata cara dan etika saat makan bedulang.

Pengulu Gawai menyalami para tamu di dalam ruang dan mempersilakan para tamu untuk mengatur duduk masing-masing menyesuaikan posisi dulang. Makan diawali dengan membuka mentudong (orang yang paling muda membuka mentudong) dan menyerahkannya kepada Tukang Ngangkat Dulang dan dilanjutkan dengan pembagian piring nasi (juga oleh orang yang paling muda) berdasarkan urutan tingkatan yang lebih tua atau berdasarkan status sosial.

Orang yang paling tua kemudian mengambil nasi dalam baskom terlebih dahulu. Sebelum makan, tangan dicuci dengan cara memasukkan tangan sebatas buku pertama jari-jari (para tamu yang hadir sudah dalam keadaan bersih). Setelah itu, keempat orang tamu dalam satu dulang mengambil lauk-pauk secukupnya dengan tertib dan sopan.

4) Tata cara dan etika sesudah makan bedulang.

Selesai makan, tangan dicuci ke dalam kecibokan (sebatas seruas jari-jari tangan seperti saat mencuci tangan sebelum makan) lalu tangan dikeringkan dengan serbet yang dilipat empat. Setiap orang hanya menggunakan seperempat bagian serbet. Setelah selesai, serbet dikembalikan dalam keadaan berlipat empat, bagian yang sudah digunakan berada di dalam lipatan dan bagian yang masih bersih berada di luar.

Melipat serbet dengan cara seperti itu memiliki makna keburukan yang dilakukan hendaknya bisa saling ditutupi. Makanan kecil dan/atau buah ‘pencuci mulut’ dan air minum selanjutnya dapat dinikmati dan prosesi makan bedulang selesai. Dulang dipindahkan dengan cara digeser perlahan secara bertahap/estafet.

Sebagian besar masyarakat Belitung sekarang ini melakukan tradisi makan bedulang hanya sebatas makan bersama tanpa memperhatikan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Hal itu dikarenakan adanya pengaruh kebudayaan lain yang dianggap lebih praktis.

Tidak sedikit yang ditemukan adanya kesalahan tata cara dan etika dalam penyelenggaraan makan bedulang. Meskipun prosesi makan bedulang saat ini sudah menjadi bagian dari objek wisata, tetapi nilai-nilai luhur dan makna filosofisnya harus dipertahankan dan dilestarikan agar warisan budaya tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Penulis: Tian Nirwana
Sumber: Bungai Rampai – Sarasehan Makan Bedulang, Tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *